Hari Ibu – Sebuah Kilas Balik

Setiap tanggal 22 Desember kita memperingati Hari Ibu, berbeda dengan perayaan Mothers Day di Negara-negara Barat, maka Hari Ibu yang kita peringati  bermula dari Kongres Perempuan Indonesia pertama, yang diadakan di Jogyakarta, yang kemudian ditetapkan melalui Dekrit Presiden No.316/1959 sebagai Hari Ibu. Pada Kongres Perempuan Indonesia pertama tersebut pemimpin dari berbagai organisasi perempuan di Indonesia berkumpul untuk memperjuangkan kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai agenda dibahas dalam kongres ini menyangkut hak-hak perempuan, dari derajat dan harga diri perempuan, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan sampai ke perkawinan anak. 

Foto: www.google.com

Sekarang, setelah hampir 100 tahun atau tepatnya 93 tahun setelah kongres tersebut, apakah masalah-masalah yang dikemukakan hampir satu abad  lalu sudah benar-benar sudah dientaskan? Kalau melihat bahwa saat ini kaum perempuan dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, atau bekerja dan berkesempatan mengemban jabatan apapun sesuai kemampuannya, maka kita dapat berkata bahwa masalah-masalah yang dikemukakan pada saat itu sudah mendapatkan solusinya. Tapi kalau dibilang sudah tuntas, maka kita harus melihat data mengenai tindakan kekerasan terhadap perempuan, perkawinan usia muda dan kasus-kasus stunting yang selain kemiskinan, penyebabnya juga adalah kurangnya pengetahuan sang ibu mengenai kebutuhan gizi anak, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pe-er yang harus dikerjakan. Data dari Komnas Perempuan dalam periode Januari – Juli 2021, tercatat ada 2500 kasus kekerasan terhadap perempuan, data terus-menerus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, inipun bisa dikatakan bukan angka yang sebenarnya, karena ditengarai masih banyak korban yang tidak berani atau tidak dapat melapor karena ketidak-percayaan pada kemampuan perangkat pemerintah untuk melindungi hak-hak mereka. Hal ini dapat terjadi karena memang masih kurang fasilitas perlindungan bagi perempuan korban tindak kekerasan, masih ada kebijakan-kebijakan yang bersifat diskriminatif, dimana perempuan masih sekedar angka demografi. Belum lagi kalau kita membicarakan usia pernikahan dini, karena masih banyak terjadi terutama di daerah-daerah tertentu, hal ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat kedua di ASEAN terkait kasus perkawinan anak. Sekalipun Pemerintah telah menentukan usia 19 tahun sebagai usia minimal untuk menikah yang  diundangkan dalam UU No.16/2019 tentang Perkawinan, namun jumlah perkawinan anak masih belum dapat ditekan, terutama di daerah pedesaan. Perkawinan anak merupakan masalah sosial yang bersifat multi dimensi, sehingga kebijakan saja tidak cukup untuk menekan hal ini. Menikah dan melahirkan anak dalam usia muda membuat ibu yang belum siap secara biologis maupun psikologis berada pada kondisi rentan, demikian pula dengan anak yang dilahirkan. Seorang perempuan harus benar-benar matang secara biologis sebelum dapat mengandung, bukan hanya sekedar sudah mengalami menstruasi saja, belum lagi bicara soal kematangan psikologis dan pengetahuan agar dapat membesarkan anak dan mendidik mereka menjadi penerus bangsa.  

Issue kesetaraan gender bukan hanya sekedar hal-hal yang tampak di permukaan, masih banyak wanita karier yang mendapatkan perlakuan berbeda di rumah, kekerasan terhadap perempuan tidak selalu bersifat fisik tapi juga dalam bentuk lain seperti verbal, emosional, pembatasan dalam bersosialisasi yang pada akhirnya berdampak pada perilaku mereka dan tidak dapat dihindarkan pula dampaknya bagi anak-anak yang mereka besarkan.  

Bukan sekedar berandai-andai kalau dikatakan bahwa perempuan memegang peran penting dalam perjalanan suatu bangsa, seperti pidato Djami dalam Kongres Perempuan I, “Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.”  Anak-anak  didikan ibu merupakan orang-orang yang akan berperan di segala lini kehidupan di masa depan, “The youth of today are the leaders of tomorrow,” – Nelson Mandela, anak-anak muda saat ini adalah pemimpin di masa depan. 

Selamat Hari Ibu untuk Semua Perempuan Indonesia, selamat berjuang untuk bangsa ini melalui peran sebagai seorang Ibu.  

Pingkan MD

Baca Juga  Essential Oil Yang Aman dan Baik untuk Anak-Anak
Tags
Lebih banyak

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close