Jangan Mudah Terpancing Emosi

Sejak pandemi di awal tahun 2020, kegiatan bisnis menurun tajam dan banyak yang gulung tikar, pendapatan berkurang bahkan terputus sama sekali.  Akibatnya dapat ditebak, banyak orang yang emosinya terganggu, data Komnas Perempuan Agustus 2021, kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan selama pandemi, naik sebesar 75%, selain terhadap perempuan, KDRT juga terjadi pada anak-anak. Ketika hidup terasa semakin sukar, marah seringkali menjadi alat pelampiasan. Lalu apa yang harus dilakukan supaya kita dapat mengendalikan kemarahan dan tidak menyakiti orang lain? 

Kebanyakan orang mencoba mengendalikan atau mengelola kemarahannya tanpa menyadari bahwa emosi itu  dapat dilepaskan total.  Menahan kemarahan atau dorongan untuk melampiaskan kemarahan tidak akan membantu, orang-orang disekitar kita bisa merasakan emosi yang kita tahan-tahan itu. Kita mungkin merasa berhasil ketika merasa dapat menahan amarah, yang terjadi sebenarnya tanpa disadari kita memproyeksikan perasaan itu  dengan cara yang lain. Apakah itu ke dalam diri kita yang akhirnya jadi stress atau bahkan malah jadi penyakit atau yang sering kita istilahkan dengan  “makan dalam,”  atau diproyeksikan keluar menjadi kebiasaan yang menjengkelkan orang lain, tiba-tiba kita menjadi orang yang gak fun, nyebelin. 

Sebenarnya, kalau kita marah, kemarahan itu timbul bukan karena fakta yang kita hadapi, tetapi lebih kepada interpretasi kita terhadap fakta tersebut. Itu sebabnya kita sering mengalami hal dimana kita marah terhadap sesuatu, tetapi teman kita yang bersama kita dan mengalami hal yang sama tidak terpancing umtuk ikut-ikutan marah. Artinya, kita sebenarnya punya pilihan bagaimana menanggapi situasi atau orang yang dapat menyulut kemarahan kita. Marah sebenarnya emosi alami yang ada dalam setiap manusia, namun ini berbeda dengan pemarah. Masalahnya sebenarnya bukan pada kemarahan kita, tapi pada usaha kita untuk menunjukkannya ketimbang melepaskannya. Melampiaskan kemarahan berbeda dengan melepaskan kemarahan. Jika kita melepaskan energi untuk menunjukkan emosi, kita tidak melepaskan amarah, perasaan itu tetap ada dalam hati kita. Tidak jarang kita melihat orang menyimpan kemarahannya sampai bertahun-tahun, yang dapat berujung pada perasaan benci dan dendam, walaupun mungkin hati kecilnya tidak menyukainya. 

Sebenarnya semua orang tahu kalau mengumbar kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah, bahkan seringkali berakibat negatif, tapi kalau ditanya bagaimana cara mengendalikan kemarahannya, kebanyakan orang tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Ada yang menjawab bahwa kemarahan harus dilepaskan dengan marah-marah, ada juga yang memiliki pengalihan seperti olah raga, makan, belanja, atau bergossip. Selain olah raga, kebanyakan pengalihan itu sebenarnya tidak membantu banyak, bahkan dapat memicu masalah baru, coba saja dipikirkan apa efek bergossip, atau belanja gak jelas, apalagi makan. Olah raga juga dapat berbahaya jika hanya untuk melampiaskan kemarahan, kita dapat memacu jantung bekerja lebih keras.  

Bukan berarti tidak boleh marah, ada pepatah Inggris yang mengatakan, bahwa orang-orang yang tidak dapat marah itu tolol, tetapi orang yang tidak mau marah itu bijaksana – He is a fool who cannot be angry; but he is a wise man who will not –  Marah merupakan bentuk emosi yang muncul ketika seseorang merasa diperlakukan dengan tidak benar, atau mendapat tanggapan negatif atas sesuatu yang berujung pada kesalahan yang lebih besar. Pemahaman terhadap penyebab kemarahan mendorong kita untuk bertindak dan memperbaiki keadaan tersebut. Namun demikian pemahaman ini dapat diperoleh ketika kita membiarkan pikiran kita mengolah kejadian tersebut sebelum memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan, atau dengan kata lain tidak bereaksi spontan, beri waktu untuk berpikir. Raja Salomo dalam kitab Amsal menuliskan, “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” Jadi sebelum kita tersulut oleh kemarahan, lebih baik tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan, ini membantu kita untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu yang mungkin akan kita sesali di kemudian hari. Saat menarik napas tarik ujung-ujung mulut membentuk senyuman, hal ini membantu kita untuk lebih tenang dan mampu mengendalikan emosi, Setelah itu tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang saya rasakan saat ini?” lalu katakan pada diri anda, “Saya tidak akan menghukum diri sendiri untuk kesalahan yang dilakukan orang lain.”  Ada pepatah yang berkata, “Kemarahan adalah hukuman yang kita timpakan pada diri kita atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.” Ketika emosi muncul, kita punya pilihan untuk membiarkan hal yang negatif menguasai diri kita, atau tetap bertindak secara positif. Jadi kalau sedang berkendara kemudian ada yang nyalip kendaraan kita, tarik napas panjang dulu sebelum membiarkan hati kita menjadi panas, dengan demikian kita dapat menghindari kecelakaan yang mungkin saja terjadi. Setelah itu gunakan energi yang timbul karena marah dengan melakukan hal yang positif, misalnya mencari jalan keluar agar kesalahan yang sama tidak terulang, atau mencoba memahami mengapa seseorang bersikap negatif untuk kemudian memberikan tanggapan positif. Well, mungkin anda akan berkata, “Lebih mudah ngomong daripada melakukannya.” Tapi semakin banyak orang yang mau mencoba memproses emosinya menjadi hal yang positif, maka semakin indah dunia ini.  

If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow – Chinese Proverb 

Ditulis oleh: Pingkan MD

Gambar diunduh dari <a href=”https://www.freepik.com/photos/woman”>Woman photo created bywayhomestudio – www.freepik.com</a>

Baca Juga  Jalan-jalan Ala Inem Jogja

 

Lebih banyak

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close