Lindungi Anak Anda Dari Internet Predator

Gadget saat ini sudah menjadi perangkat umum yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk ‘membungkam’ anak supaya tidak rewel atau menjadi alat bantu agar anak mudah makan. Maka tidak mengherankan kalau banyak anak dari usia dini sudah terbiasa dengan gadget. Namun dibalik semua kemudahan atau hiburan bagi anak, terdapat hal-hal yang harus diperhatikan supaya anak tidak menjadi terikat dengan gadget dan mengganggu waktu belajar atau bersosialisasi dan bermain dengan teman-temannya. Selain itu, ada bahaya yang perlu dicermati saat anak menggunakan gadget atau laptop.

Selama pandemi, peserta didik di Indonesia belajar secara daring, jumlah siswa yang bersekolah pada jenjang SD – SMA untuk semester genap TA 2019/2020 mencapai 45.684.771 jiwa, sebanyak 25.203.371 merupakan siswa Sekolah Dasar. Penggunaan internet secara masif yaitu lebih dari 70% penduduk Indonesia juga menjadi ‘ladang’ bagi pelaku kejahatan virtual. Berbagai bentuk kejahatan melalui internet semakin marak seiring bertambahnya pengguna internet, selain pecurian data, manipulasi finansial, kejahatan seksual juga meningkat. Perlindungan bagi pengguna internet menjadi sangat penting, terutama di kalangan anak dan remaja yang rentan terhadap eksploitasi kejahatan virtual seperti pornografi, game online yang bermuatan  kekerasan dan pornografi, ujaran kebencian, radikalisme dan lain-lain.

Survey yang dilakukan oleh End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia pada 2020, dari 1203 responden, terdapat 287 responden yang mengalami pengalaman buruk seperti dikirimi pesan teks yang tidak senonoh, gambar atau video yang membuat tidak nyaman, gambar atau video pornografi, dikirimi tautan pornografi dan diunggah hal-hal buruk tentang responden tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. KPAI mencatat adanya peningkatan pengaduan kasus pornografi dan cybercrime yang menjerat anak-anak, secara kumulatif dari tahun 2011 – 2019 terdapat 3.922 kasus kejahatan cyber dan pornografi yang menimpa anak-anak di bawah umur.  

Anak-anak, remaja dan mereka yang memiliki pengetahuan rendah mengenai komputer dan internet rentan terhadap kejahatan melalui internet. Kita tidak akan membiarkan anak-anak kita berjalan-jalan sendiri di daerah yang rawan, demikian juga saat berselancar di internet, dampingi mereka dan pastikan berselancar di website yang aman. Cybercriminal seringkali menggunakan konten yang memicu rasa ingin tahu atau dapat membujuk anak, beri pengertian kepada mereka agar tidak mudah memberikan identitas diri kepada orang yang tidak dikenal dan selalu memberitahu orang tua jika mkenerima konten yang tidak menyenangkan. Peran orang tua sangat penting dalam memastikan anak-anak dan remaja berselancar di tempat  yang aman.

Memahami berbagai kejahatan melalui internet dapat membantu agar kita dan anak-anak kita tidak terjebak oleh aktivitas online yang berbahaya. Pintu masuk yang paling umum adalah ketika kita meresponse dengan menjawab pesan tertentu, atau mengklik link yang mencurigakan, mengunduh software yang dari sumber yang tidak jelas. (MDP/1121)

 

Baca Juga  Begini Cara Alternatif Mengajari Anak Membaca

 

Tags
Lebih banyak

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close