Quo Vadis, Indonesia?

Riyanto, nama ini selalu muncul setiap akhir tahun, menjelang perayaan Natal. Anggota Banser yang pada tanggal 24 Desember 2000 berjaga di gereja Eben Haezer, Mojokerto ini meninggal di usia muda dalam upayanya menyelamatkan jemaat yang akan beribadah dari serangan bom. Sekarang, 21 tahun setelah kejadian itu, persekusi dan intoleransi masih saja menjadi berita, bahkan semakin meluas, apalagi teknologi digital membuat masyarakat dapat dengan mudah mengakses ceramah-ceramah dari ustad-ustad garis keras yang seringkali mengumbar kebencian terhadap mereka yang tidak sealiran. Masyarakat yang belum matang secara spiritual, akan menelan mentah-mentah isi ceramah-ceramah yang seperti itu dan mudah terprovokasi. Kita seperti melangkah menjauhi cita-cita pendiri bangsa ini, sementara solusi untuk ini masih jauh panggang dari api.

Indonesia sangat beragam, ada kurang lebih 1.331 suku/kelompok suku yang mendiami bumi Nusantara dengan berbagai budaya masing-masing, bukan sekedar dikotomi mayoritas/minoritas, atau Islam/Non-Islam apalagi kadrun/cebong yang seharusnya bersatu setelah pilpres dinyatakan selesai. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pemuda sudah menyadari bahwa perpecahan hanya membawa kehancuran, sehingga mereka membuat suatu perjanjian, ikrar yang mempersatukan seluruh suku, bahasa dalam naungan satu Tanah Air yaitu Indonesia, yang membuat bangsa ini kuat dan mampu mengusir penjajah dari negeri ini. Persatuan ini harus dijaga supaya kita tidak berjalan menuju perpecahan dan disintegrasi.

Persekusi terhadap warga, ujaran kebencian bahkan tindakan terorisme tidak cukup hanya diselesaikan dengan kesepakatan, penyelesaian secara kekeluargaan, tanda tangan di atas meterai atau penjara. Itu seperti orang sakit dengan gejala panas tinggi diberi paracetamol, panasnya turun tapi sumbernya tidak disembuhkan. Cerita-cerita seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Kabupaten Pasuruan atau di Tulang Bawang di Lampung akan terus ada, jika penanganannya hanya dipermukaan saja, adanya Forum Komunikasi antar Umat Beragama (FKUB) tidak akan efektif kalau hanya dialog di tatanan elit saja, apalagi kalau hanya muncul pada saat ada konflik. Masyarakat perlu edukasi, dibimbing agar menjadi dewasa secara spiritual sehingga kasus-kasus intoleransi bisa ditekan. Mereka yang dewasa secara spiritual akan mampu merasakan ketenangan dan kedamaian diri yang timbul dari hubungan pribadinya dengan Penciptanya yang dia jalani melalui ritual keagamaan, sehingga dia sanggup mengatakan bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Sehingga berita-berita mengenai perubahan status agama seseorang yang saat ini sering muncul di media bukanlah hal yang penting, karena hal itu merupakan ranah pribadi seseorang. Agama bukan hanya sekedar ritual, tapi lebih dari itu, kita harus memahami jiwa dari ajaran itu sendiri, sehingga ajaran-ajaran tersebut menyatu dengan jiwa kita. Jika kita tidak memahami jiwa atau Roh dari ajaran-ajaran itu, maka ada orang-orang lain akan dengan mudah menciptakan ‘jiwa’ dari ajaran-ajaran agama untuk kepentingannya sendiri atau golongannya, kemudian dijadikan bahan pengajaran. Itu sebabnya kehidupan spiritual seseorang sejatinya bersifat pribadi, sebagai buah dari pencariannya terhadap Pencipta-nya, yang akhirnya terbangun hubungan yang kuat antara dirinya dengan Tuhan-nya dan hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungannya.

Baca Juga  Manajemen JKT48 Masih Abaikan Kesehatan Member

Dalam hal ini Negara berkewajiban memberikan ruang bagi setiap warga Negara untuk bertumbuh secara spiritual, apapun agama yang dipilihnya sebagai jalan menuju Sang Pencipta Alam Semesta. Tugas Negara adalah mencerdaskan masyarakat, agar menjadi bangsa yang kuat, memiliki kemampuan untuk memilih dan membedakan hal-hal baik bagi dirinya bukan karena didikte oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Sesungguhnya bangsa ini sudah memiliki dasar yang kuat dalam berbagai segi sosial bermasyarakat, hubungan antar manusia maupun dengan alam, kita hanya perlu belajar dari sejarah masa lalu, dimana nenek moyang bangsa ini hidup dengan tatanan budaya yang tinggi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesamanya dan dengan alam. Ini bukan hanya sekedar isapan jempol semata, “literasi” yang diukir dalam 2.672 panel relief di candi Borobudur merupakan salah satu bukti, demikian juga kalau kita mempelajari peninggalan-peninggalan masa lampau baik berupa bangunan, situs-situs bersejarah, prasasti maupun karya-karya sastra. Belajar dari situs Liyangan,misalnya, kita bisa melihat bagaimana nenek moyang kita sudah memahami mitigasi bencana dengan membaca tanda-tanda alam, sehingga dapat terhindar dari bencana letusan gunung Sundoro pada abad ke 11, hal ini terbukti dari tidak ditemukan kerangka manusia maupun hewan pada situs tersebut yang merupakan pemukiman kuno, hanya ada bekas tempat tinggal, perkakas yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan area pertanian. Bandingkan dengan Pompeii, sebuah kota di zaman Romawi kuno yang terkubur oleh abu letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M, dalam situs Pompeii masih dapat ditemukan jasad manusia yang terawetkan oleh jutaan ton abu vulkanik. Atau saat kita mengagumi wastra Nusantara dari berbagai daerah, coba pahami filosofi yang ada dibalik motif tenun atau batik dari kain tersebut, semua penuh dengan simbol-simbol yang mengajarkan kepada kita mengenai hubungan-hubungan dalam kehidupan baik vertikal maupun horizontal. Itu hanya sedikit contoh dari sekian banyaknya kearifan lokal yang dimiliki bangsa kita yang tersebar di seluruh Nusantara. Berbagai situs dan peninggalan sejarah menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang ecek-ecek. Sayangnya, ketika Belanda menjajah selama 300 tahun, bangsa yang besar ini dibuat menjadi bangsa yang inferior dan bukti-bukti kebesarannya dimanipulasi. Jadilah bangsa ini yang lebih memuja kebudayaan yang berasal dari luar, seolah-olah kita tidak memiliki akar yang kuat sehingga mudah goyah oleh pengaruh dari luar maupun oleh jualan pihak-pihak tertentu.

Baca Juga  Seri Wastra Nusantara - Karawo Kain Sulaman Khas Gorontalo

Saat ini kita sedang berjuang melawan pandemi dengan vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan, namun di sisi lain kita juga memerlukan vaksinasi ideologi untuk menghadapi virus radikalisme dan intoleransi yang merongrong kesatuan dan persatuan NKRI. Manfaatkan teknologi informasi untuk memperkuat literasi budaya kita, selain itu, pendidikan juga harus dapat menjadi sarana generasi muda untuk mengenal dan memahami jati diri bangsa yang diwarnai oleh kebhinekaan dan toleransi. Kita harus kembali ke akar budaya kita, belajar dari masa lalu bukan berarti ketinggalan jaman, karena sesungguhnya kearifan tidak pernah lekang oleh waktu.

Jakarta, 03012022

Pingkan MD/KTj

Tags
Lebih banyak

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close