Trending

Stop Kekerasan Seksual Pada Anak

The Safe Center LI

Hari ini, 29 November 2021 di Kejaksaan Negeri Depok dilakukan penyerahan restitusi kepada dua orang keluarga korban kekerasan seksual terhadap anak yang peristiwanya mencuat pada bulan Mei 2020.  Setelah kasus yang cukup heboh tadi, dimana pelaku atau sebut saja si pedofil melakukan kejahatannya selama 18 tahun dan melecehkan 20an anak;  kasus kekerasan seksual terhadap anak masih terus terjadi, baru-baru ini di Malang Jawa Timur polisi menetapkan 7 orang pelaku kekerasan seksual pada anak yang berawal dari video penganiayaan seorang anak di bawah umur oleh teman-temannya yang viral di media sosial.  Di Padang, Sumatera Barat seorang pengurus mushola ditangkap  karena mencabuli 14 orang anak, masih di Padang, dua orang kakak-beradik diperkosa oleh kakek, paman, orang kakak lelaki korban dan tetangganya. Kebanyakan pelaku kejahatan seksual terhadap anak dilakukan oleh orang-orang yang dikenal atau dekat dengan korban, sehingga sering kali tidak dapat diprediksi sebelumnya. Lihat saja kejadian di Jakarta International School (JIS)  pada tahun 2002; di Padang, korban pelecehan yang dilakukan oleh Saiful Jamil atau di Depok yang disebut diawal tulisan ini. 

Penanganan kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak seringkali tidak tuntas karena keluarga tidak melakukan tindak lanjut atau menolak melakukan tindak lanjut dengan alasan sudah diselesaikan secara kekeluargaan, malu dan tidak sanggup menjalani proses yang melelahkan atau skeptis terhadap penegakan hukum terkait kasus kekerasan domestik ini. Kekerasan seksual terhadap anak tidak dapat dianggap enteng dan cukup dengan penyelesaian secara kekeluargaan, tetapi harus sampai pada proses hukum yang dapat membuat pelakunya jera. Tanpa proses hukum, korban akan merasa tidak aman dan penyembuhan trauma akibat kejadian yang dialaminya lebih sukar, lebih bahaya lagi kalau korban merasa hal tersebut dapat diterima karena sudah diselesaikan dengan baik-baik secara kekeluargaan, seolah-olah merupakan kenakalan biasa. Lebih buruk lagi, ketika dewasa korban dapat mereplikasi penyebab traumanya, apalagi ketika penggemar Saiful Jamil menyambut keluarnya dia dari penjara dengan meriah, seolah-olah menyambut  pahlawan. Wait! A paedophil hero??? Ada yang salah dengan orang-orang ini, bagaimana mungkin seseorang yang merusak masa depan anak-anak di bawah umur disambut dengan meriah seperti itu? Bayangkan bagaimana perasaan korban?

Sudah sepantasnya setiap kekerasan seksual apalagi pada anak diproses sesuai hukum yang berlaku, dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal baik hukuman badan maupun secara sosial, bukan dipuja seperti yang terjadi baru-baru ini. Bahkan restitusi sebesar apapun tidak dapat mengembalikan apa yang sudah dirampas oleh pelaku dari korban, yaitu tumbuh secara normal dan menikmati masa kanak-kanak dan remaja tanpa trauma. Masyarakat harus paham bahwa kejahatan seperti ini mempunyai efek jangka panjang yang sebenarnya tidak terbayar dengan apapun, bahkan dapat merusak masa depan korban. 

Kekerasan seksual pada anak umumnya dilakukan oleh seseorang yang mereka sayangi atau mereka percaya  (guru, selebriti, kakek, paman, kakak, pengurus gereja, pengurus musholla) orang-orang yang secara logika tidak akan melakukan kejahatan tersebut. Hal ini dapat membuat korban merasa bahwa orang-orang yang mereka kasihi dapat melukai mereka, apalagi kalau mereka melihat bahwa pelaku masih dapat berkeliaran bebas di sekitar mereka. Anak-anak tersebut jadi mudah curiga, bahkan pada orang-tua mereka sendiri. Terlepas dari bagaimana seorang anak mengalami tindak kekerasan seksual, perlakuan tersebut akan berakibat negatif dan memiliki dampak psikologis pada korbannya (Ratican, 1992). Harus dipahami bahwa kekerasan seksual tidak selalu dalam bentuk sentuhan fisik, seorang pedofil dapat menggunakan berbagai macam cara selain sentuhan fisik seperti, memperlihatkan gambar-gambar porno, memanfaatkan internet untuk menyerang imajinasi anak maupun melalui percakapan. Bagaimanapun bentuknya, kejahatan seksual selalu mempengaruhi kondisi psikologis anak yang dapat terbawa sampai mereka dewasa. Trauma masa kecil ini dapat menghambat perkembangan  sosial anak dan berakibat pada berbagai masalah psikologis (Maltz, 2002). Depresi, perasaan bersalah/menyalahkan diri sendiri, rasa malu dan tidak berharga, merasa ditolak, pola makan yang tidak lazim, cemas berlebihan sampai pada tidak mampu berhubungan dengan orang lain. Ketidak-mampuan anak menyampaikan kekerasan yang dialami karena berbagai hal termasuk ancaman pelaku seringkali membuat anak membangun persepsi negatif terhadap diri sendiri. Hal ini tentunya mengancam masa depan anak, terutama jika mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk konseling. Banyak kasus yang tidak mencuat karena ketidak-tahuan orang tua, bayangkan, pelaku kasus di Depok mulai melakukan perbuatan terkutuknya sejak tahun 2002, dan terkuak pada Mei 2020, selama kurun waktu 18 tahun perbuatannya tidak ada seorang anak yang berani menyampaikan perbuatannya kepada orang tua karena berbagai hal, perasaan malu, takut atau kuatir tidak dipercaya karena posisi pelaku di gereja, padahal dari hasil investigasi ada 21 korban kemungkinan lebih. Hal ini menunjukkan bagaimana pandainya seorang pedofil menutupi kelakuannya, pada kasus guru JIS tahun 2002 yang lalu, baru terungkap kalau yang bersangkutan pedofil kelas dunia setelah mengajar disana selama 10 tahun. 

Lalu bagaimana mencegah dan melindungi anak-anak dari kekerasan seksual? Kebanyakan orang tua korban tidak pernah menyangka kalau hal tersebut menimpa anak mereka. Bagi mereka, anak-anak sudah biasa bermain dengan teman-teman mereka, bermain di rumah tetangga, atau bermain dengan keluarga yang kebetulan menginap di rumah. Tentunya kita tidak dapat mencurigai semua orang yang mendekati anak-anak kita, dan memang tidak semua orang jahat. Tapi kita harus bisa mencegah mereka agar tidak mengalami kekerasan seksual dengan membekali mereka dengan pengetahuan sedini mungkin dan sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.  

  1. Ajarkan anak-anak sedini mungkin mengenai bagian-bagian tubuh, mengapa bagian tubuh tertentu haru ditutupi, tentunya dengan bahasa yang mudah mereka pahami. Bisa dengan memberi contoh bagaimana orang tuanya juga melakukan hal yang sama 
  2. Ajarkan pada mereka bagian-bagian mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain, siapapun dia dan juga tidak boleh mereka lakukan terhadap orang lain.
  3. Ajarkan pada anak untuk tidak menyimpan rahasia terutama jika menyangkut “permainan dengan bagian-bagian yang terlarang”. Beri pengertian bahwa mereka dapat bercerita kepada ayah atau ibu jika mereka mengalami perlakuan seperti itu, tekankan bahwa ayah-ibu sayang kepada mereka dan akan menolong mereka. 
  4. Ajarkan pada mereka apa yang harus dilakukan jika menghadapi situasi yang menakutkan. 
  5. Anak-anak umumnya senang jika mereka mempunyai semacam kode rahasia yang hanya dimengerti oleh dia dan ayah/ibu, ciptakan kode rahasia yang dapat mereka pakai jika menghadapi hal yang tidak nyaman, sehingga ayah/ibu dapat segera menolong mereka. 
  6. Buatlah anak-anak percaya bahwa “tidak apa-apa jika mereka cerita kepada ayah/ibu kalau mereka mengalami hal-hal yang menyangkut bagian terlarang” orang tua dapat memakai istilah sendiri mengenai hal ini, agar anak lebih mudah mengerti.    
  7. Pantau anak saat mereka bermain, buat mereka sadar kalau ayah atau ibu selalu memperhatikan mereka 
  8. Jangan biarkan anak menggunakan gadget tanpa pengawasan.

Ditulis oleh Pingkan MD. 

Referensi:                                                                                                                                                                1.Ratican, K.,1992, Sexual Abuse Survivors: Identifying Symptoms and Special Treatment Consideration, Journal of Counseling & Development, 71(1),33-38                                                                                              

2.Maltz, W.,2002, Treating The Sexual Intimacy Concerns of Sexual Abuse Survivor, Sexual and Relationship Therapy, 17 (4), 321-327 

3.Hall,M.,& Hall,J.,2011, The Long-term Effects of Childhood Sexual Abuse: Counseling Implication.,Retrieved from: http//counselingoutfitters.com/vistas/vistas11/Article_19.pdf   

                                                                      4.Muhamad Ali Hasan, Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Bisa Diselesaikan kekeluargaan?, Kompas.com, 19 Juli 2021 

 

Baca Juga  9 Manfaat Essential Oil Fennel/Adas, Rempah Indonesia yang Menakjubkan
Tags
Lebih banyak

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close